Upacara 17 Agustusan di Istana

Jumat, 29 Januari 2010 , Posted by sunardi-djakarta at 04.05

OLEH: H.NURHADI PURWOSAPUTRO

Mungkin banyak orang yang bertanya mengapa masih dalam bulan Januari, naskah tentang upacara 17-an di istana sudah ditulis. Penulis menulis naskah ini dengan tujuan yang serius sesuai dengan rentang waktu, karena adanya harapan untuk menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam penyelenggaraan acara nasional 17-an di istana tahun ini yang masih beberapa bulan lagi. Upacara 17-an di istana tiap tahunnya sepanjang kita merdeka selalu menjadi puncak acara merayakan hari Kemerdekaan RI 17 Agustus, yang diselenggarakan secara megah dan hidmat, dihadiri oleh para pejabat, wakil rakyat, perwira tinggi angkatan dan Polri, perwakilan asing, para veteran dan tokoh-tokoh daerah serta politisi tingkat nasional. Dalam rangkaian seluruh acara peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI itu seluruh acaranya sudah standard dan rutin dengan masa persiapan yang cukup panjang dan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.
Berbagai mata acara yang dipersiapkan dan disajikan di depan publik banyak mengandung simbol-simbol yang mengandung nilai magis spiritual berkaitan dengan kondisi bangsa waktu itu dan maknanya bagi bangsa Indonesia masa kini dan yang akan datang. Dentuman meriam 17 kali pada jam 10, angka jumlah pasukan pengibar bendera (PASKIBRAKA), bendera pusaka asli yang selalu mengiringi bendera yang akan dikibarkan, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, dan sebagainya merupakan simbol-simbol yang berfungsi mengenang, mengingat kembali, harapan dan pendorong semangat nasionalisme. Dalam kaitan inilah naskah ini ditulis. Seluruh rakyat Indonesia pasti setuju bahwa bendera merah putih yang dikibarkan dimana pun dan kapan pun adalah lambang nasionalisme dan lambang semangat perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan yang harus dijunjung tinggi dan ‘disakralkan’, namun apa yang terjadi di istana pada saat upacara memperingati hari kemerdekaan itu ada dua hal yang sangat menggelitik rasa kebangsaan penulis, dan disampaikan di naskah ini untuk mendapat tanggapan benar tidaknya pemikiran penulis ini.
Bendera merah putih dikibarkan di seluruh pelosok tanah air sebagai hasil perjuangan para pahlawan kita yang menghiasi seluruh taman makam pahlawan mengusir penjajah yang sudah ratusan tahun menjajah kita. Dengan demikian posisi batiniahnya akan sangat berbeda dengan bendara-bendera kebangsaan bangsa lain. Keanehan terjadi pada saat upacara pengibaran dengan seluruh kekhidmatannya baru saja selesai, pasukan upacara segera balik kanan dan bendera dibelakangi oleh patriot-patriot muda yang bakal meneruskan perjuangan bangsa mengisi kemerdekaan, yang seolah-olah lebih penting memperhatikan presiden dan tamu undangan di podium dari pada benderanya sendiri. Dus upacara pengibarannya hanya sampai disitu saja. Ini tentu sangat debatable. Tapi tidak inginkah kita menghilangkan kesan ini dengan cara memindahkan tiang bendera mendekat ke depan istana sehingga pasukan upacara tidak usah balik kanan dan seluruh acara pasti tetap dapat dilaksanakan dengan posisi bendera yang lebih terhormat? Posisi bendera yang persis di depan presiden dan hadirin di podium tetap menjadi sentral perhatian dan penghormatan seluruh yang hadir dan penonton di rumah-rumah dan tempat umum di seluruh tanah air. Boleh kita lihat dan cermati, barangkali hanya di istana saja yang disaksikan oleh para tokoh nasional (dignitaries), perwakilan asing dan disiar langsungkan ke seluruh penjuru tanah air, namun dalam sekejap sang saka merah putih dibelakangi oleh pasukan upacara. Apakah perlakuan kita terhadap bendera kebangsaan dalam upacara yang sangat resmi setiap tahun seperti itu berpengaruh dengan kondisi bangsa yang nyaris mandeg tidak maju-maju? Wallahu’alambissawab. Ini masalah pertama.
Kemudian pada sore harinya kita selalu menyaksikan adanya acara penurunan bendera secara resmi dan besar-besaran dengan undangan yang memenuhi semua tempat duduk yang disiapkan. Mari kita bertanya pada hati nurani kita masing-masing: benarkah bendera yang telah dikibarkan dengan tumbal darah dan nyawa para pejuang bangsa harus ada upacara penurunan? Tidak marahkan arwah para pejuang kita di makam-makam pahlawan menyaksikan acara itu?. Seharusnya pesan/message yang harus disampaikan oleh pemerintah kita kepada seluruh bangsa adalah sekali sang merah putih berkibar, pantang untuk diturunkan! Adapun karena menjelang malam hari bendera tidak perlu berkibar terus, boleh diturunkan tetapi jangan dengan upacara. Pada situasi seperti itu dimana ada petugas menurunkan bendera karena menjelang malam, seluruh orang yang dekat dan mata dapat melihat langsung, harus berdiri tegak menghadap bendera, menghormat sampai bendera dilepas talinya. Pernah ada yang menyanggah pemikiran itu dengan mengatakan bahwa di luar negeri ada juga negara yang mengadakan acara penurunan bendera semacam itu, tetapi haruskan kita menirunya? Dalam hal seperti ini kita harus lebih inward looking, melihat kepentingan kita sendiri. Masalah-masalah batiniah sakral yang simbolis seperti ini jangan dimentahkan dengan kepentingan turisme maupun kebiasaan yang sudah membudaya. Kita sendirilah yang mengatur diri sendiri, aturan yang dinilai tidak pas harus dirubah. Apakah kondisi dan kebiasaan seperti ini ada kaitannya dengan keterpurukan bangsa yang dibangun diatas darah dan nyawa para pejuang bangsa dewasa ini? Wallahu’alambissawaab.
Kita tidak usah terikat erat dengan aturan dan kebiasaan yang membelenggu kita padahal tidak pas. Seluruh rangkaian upacara nasional yang padat dengan lambang-lambang, simbol-simbol dan penuh pesan moral kebangsaan ini terlalu besar untuk diremahkan. Mudah-mudahan pesan tulisan ini dapat merangsang hati para pemimpin, dengan harapan bila tidak tahun ini, kapan pun di masa depan ada yang berani menerimanya dengan lkhlas dan mengambilnya sebagai dasar kebijakan nasionalnya.(***)

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Poskan Komentar